Activity Network Diagram (Bagian Pertama)

Sistem adalah serangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan dan bergantung sehingga interaksi dan saling pengaruh dari salah satu subsistem (bagian) akan mempengaruhi keseluruhan sistem (Huse & Bowditch, 1973, p. 28). Jenis sistem yang kompleks akan lebih mudah dipahami jika digambarkan dalam sebuah diagram daripada melalui bahasa tulisan. Diagram mampu memperlihatkan saling keterkaitan yang sebenarnya antara bagian-bagian yang dapat ditampilkan dalam sistem.

Dalam perangkat manajemen proyek, kita mengenal sebuah diagram yang disebut activity network diagram (diagram jaringan kerja). Activity network diagram merupakan salah satu dari tujuh alat perencanaan manajemen (7 management and planning tools) atau 7 New Quality Tools sehingga dalam businessdictionary.com disebutkan bahwa activity network diagram adalah salah satu alat manajemen kualitas:

A quality management tool that charts the flow of activity between separate tasks. It graphically displays interdependent relationships between groups, steps, and tasks as they all impact a project. Bubbles, boxes, and arrows are used to depict these activities and the links between them (businessdictionary.com).

Dengan activity network diagram dapat dilakukan analisis terhadap jadwal waktu penyelesaian proyek, masalah yang mungkin timbul jika terjadi kelambatan, probability selesainya proyek, biaya yang diperlukan dalam rangka mempercepat penyelesaian proyek, dan sebagainya.

Terdapat beberapa versi activity network diagram, namun yang luas pemakaiannya adalah:

  • CPM (critical path method), merupakan teknik pertama activity network diagram yang diperkenalkan pertama kali tahun 1957 oleh M. R. Walker dari DuPont Company and J. E. Kelley, Jr. dari Remington Rand Univac. [1]
  • PERT (program evaluation and review technique), yang diperkenalkan tahun 1958 oleh U.S. Navy Special Projects Office.
  • PDM (precedence diagram method), yang dikembangkan oleh J. W. Fondahl dari Stanford University pada awal dekade 1960-an.

Perbedaan mendasar antara CPM dan PERT adalah terletak pada perkiraan waktu, CPM menaksir waktu dengan cara pasti (deterministic) sedangkan PERT dengan cara kemungkinan (probabilistic). Metode ketiga, PDM, memiliki jaringan kerja yang lebih sederhana karena kegiatan atau tugas-tugas digambarkan pada node (simpul atau sambungan jalur), bukan pada garis panah seperti pada CPM dan PERT. Metode menggambarkan kegiatan pada node disebut metode diagram AON (activity on node), sedangkan metode menggambarkan kegiatan pada garis panah disebut metode diagram AOA (activity on arrow) atau arrow diagramming method (ADM).

Metode Diagram AOA dan AON

Ada dua metode untuk menggambarkan activity network diagram yaitu:

  1. Activity on arrow (AOA), yang mana kegiatan digambarkan pada garis panah (arrow) dalam hal ini node merupakan suatu peristiwa (event).
  2. Activity on node (AON), yang mana kegiatan digambarkan pada node dalam hal ini garis panah (arrow) merupakan hubungan logis antar kegiatan.
activity-on-arrow activity-on-node
n = Event number
x = Duration time
A = Activity name
ES = Earliest start time
LS = Latest start time
EF = Earliest finish time
LF = Latest finish time
(a) Hubungan Peristiwa Kegiatan pada Activity On Arrow (b) Hubungan Peristiwa Kegiatan pada Activity On Node

Gambar 1. Pendekatan dalam Menggambarkan Activity Network Diagram

Menggambarkan diagram AOA sedikit lebih sulit dari diagram AON, begitupun pembaca yang belum berpengalaman akan lebih mudah memahami diagram AON ketimbang diagram AOA karena jaringan diagram AON memfokuskan pada kegiatan atau tugas-tugas (tasks) sementara diagram AOA pada peristiwa (event).

Untuk menggambarkan hubungan antar kegiatan dalam diagram AOA didasarkan pada hubungan kegiatan yang mendahului (predecessor) atau hubungan kegiatan yang mengikuti (successor) atau keduanya sekaligus sebagai kontrol.

Tabel 1

Beberapa ketergantungan antar kegiatan

AOA/CPM AON/PDM Keterangan
(a) Kegiatan B dimulai setelah kegiatan A selesai
A predecessor B, B successor A
(b) Kegiatan B dan C dapat dimulai setelah kegiatan A selesai
A predecessor B dan C, B dan C successor A
(c) Kegiatan C dan D dapat dimulai setelah kegiatan A dan B selesai
A dan B predecessor C dan D, C dan D successor A dan B
(d) Hubungan ketergantungan dengan memakai dummy pada AOA
A dan B menjadi predecessor C karena ada kegiatan dummy dari B ke C di AOA

Pada Tabel 1 di atas, kita melihat adanya kegiatan dummy pada diagram AOA, sementara pada diagram AON tidak akan pernah dijumpai kegiatan dummy. Apa yang dimaksud dengan kegiatan dummy? Mengapa hanya digunakan dalam diagram AOA ?

Dummy dalam Diagram AOA

Ketika suatu diagram AOA dibuat, kita mungkin akan menemukan masalah penting yang terkait dengan fungsi garis panah. Garis panah dalam diagram AOA selain berfungsi untuk menunjukkan urutan juga berfungsi sebagai simbol kegiatan dan durasinya. Dalam beberapa kasus jaringan, garis panah ini sering menimbulkan ketidakjelasan urutan dan kerancuan penyebutan suatu kegiatan.

Untuk menghindari  masalah tersebut, para pengembang diagram AOA membuat konsep kegiatan  ‘dummy’ yang disimbolkan dengan garis panah putus-putus (- – – >). Kegiatan dummy merupakan kegiatan semu yang durasinya nol (tidak membutuhkan sumber daya), yang diselipkan ke dalam jaringan untuk menjaga logika pada jaringan.

Menurut Herjanto (2008), terdapat dua jenis kegiatan dummy, yaitu grammatical dummy  dan logical dummy (p. 363).

Gramatical dummy

Gramatical dummy adalah dummy yang digunakan untuk menghindari kerancuan penyebutan suatu kegiatan jika ditemukan dua atau lebih kegiatan yang berasal dari peristiwa yang sama dan berakhir pada peristiwa yang sama  pula, contoh: tiga kegiatan A, B, dan C pada Gambar 2.a, yang mana A dan B dimulai dan berakhir pada waktu yang sama, dan C tidak dapat dimulai setelah A dan B selesai. Kondisi A dan B dimulai dan berakhir pada waktu yang sama ini sulit dibedakan oleh algoritma penjadwalan pada komputer karena yang dibaca oleh komputer adalah peristiwa/node.

Meskipun diagram AOA dan AON populer digunakan, banyak paket  software manajemen proyek, seperti Microsoft Project atau Primavera, menggunakan diagram AON karena kesederhanaannya[2]. Komputer mengidentifikasi setiap kegiatan pada diagram AOA sesuai dengan sepasang angka yang tercantum dalam node di awal garis panah dan node di ujung garis panah. Oleh karena itu, kita perlu bantuan dummy, seperti ditunjukkan Gambar 2.b dan Gambar 2.c, sehingga jelas dapat dibedakan penyebutan dari masing-masing kegiatan. Untuk analisis manual tanpa komputer, penggunaan grammatical dummy  dapat diabaikan sehingga contoh seperti Gambar 2.a bisa saja digunakan.

gramatical-dummy-a
(a) Gambaran Rancu
gramatical-dummy-b gramatical-dummy-c
 (b) Gambaran Jelas (c) Gambaran Jelas

Gambar 2. Contoh Penggunaan Grammatical Dummy

Berikut dua panduan yang perlu diingat agar kita tidak lupa menambahkan grammatical dummy dalam diagram AOA:

  1. Setiap kegiatan harus mempunyai identitas tersendiri yang dinyatakan oleh nomor node awal dan nomor node akhir. Jika lebih dari satu kegiatan dengan nomor pasangan node yang sama, maka grammatical dummy harus ditambahkan,
    contoh:
    Kegiatan A identitasnya 1-2 (dari node no. 1 ke node no. 2)
    Kegiatan B identitasnya  1-3
    Kegiatan C identitasnya  2-3
    Kegiatan D identitasnya  2-3
    Kegiatan E identitasnya  2-4

    Kegiatan C dan D tidak diperbolehkan karena memiliki identitas yang sama, maka harus ditambahkan dummy.

  2. Tidak boleh ada arus berbalik arah atau loop dalam diagram AOA. Pastikan node di ujung garis panah selalu memiliki nomor node lebih besar dari node di awal garis panah.

Logical Dummy

Logical dummy dipergunakan untuk memperjelas hubungan antar kegiatan. Perhatikan penggambaran diagram yang salah dalam kolom 3 pada Tabel 2, diagram tersebut dapat dibaca C dan D dapat dimulai setelah A dan B selesai. Padahal maksud  sesungguhnya adalah D dapat dimulai setelah A dan B selesai, sedangkan C hanya membutuhkan  A sebagai predecessor. Untuk menggambarkan logika ini, kita memerlukan dummy untuk memperjelas maksud tersebut, seperti ditunjukkan pada kolom 4 Tabel 2.

Tabel 2

Contoh penggunaan logical dummy

Kegiatan Predecessor Salah Benar
A dummy-activity-1 dummy-activity-2
B
C A
D A, B

Contoh lain diperlihatkan Gambar 3. Kegiatan Q dan R berakhir pada node yang sama dan keduanya punya predecessor yang sama yaitu P, namun Q punya predecessor lain yaitu O (yang bukan predecessor R), sementara R punya predecessor lain yaitu N (yang bukan predecessor Q). Artinya Q dan R tidak berbagi semua set predecessor yang sama. Jika digambarkan tanpa kegiatan dummy, seperti pada Gambar 3.a, maka diagram akan terlihat tidak logis karena P memiliki identitas rangkap. Oleh karena itu, dua kegiatan dummy perlu disisipkan agar menunjukkan urutan kegiatan dengan benar seperti diperlihatkan Gambar 3.b.

logical-dummy-a logical-dummy-b
(a) Gambaran Tidak Logis (b) Gambaran Logis

Gambar 3. Contoh Penggunaan Logical Dummy

Kemudahan Diagram AON vs. Popularitas Diagram AOA

Kegiatan dummy tidak diperlukan dalam diagram AON, dan siapapun akan bilang diagram AON nampak lebih rapih dan mudah ketimbang diagram AOA. Hal ini juga mungkin menjadi alasan mengapa semua paket software manajemen proyek menggunakan diagram AON. Bahkan para akademisi sudah menyarankan untuk mengurangi dominasi diagram AOA dalam buku-buku pengantar operational research / management  science (misalnya, Sniedovich, 2005).

Diagram AOA jarang digunakan di luar bidang akademik karena tingkat kesulitan AOA lebih tinggi di banding AON, seperti yang dikatakan Shogan (1988) bahwa pembangunan jaringan AOA memerlukan lebih banyak waktu dan usaha karena memerlukan wawasan dan kreativitas agar kegiatan dummy secara tepat digunakan dalam jaringan (Sniedovich, 2005, p.52). Lalu mengapa kita masih mempertimbangkan penggunaan diagram AOA beserta kegiatan dummy-nya?

Jika dibandingkan dengan diagram AON, diagram AOA lebih mudah dan cepat digambarkan dalam bentuk sketsa tangan sehingga cocok dengan prinsip 7 New Quality Tools yang menggunakan mekanisme brainstorming. Diagram AOA sangat berguna selama sesi brainstorming atau perencanaan team di awal suatu proyek karena dapat menghemat waktu berharga pada meeting perencanaan awal yang biasa dihadiri oleh karyawan-karyawan yang sibuk.

Selain bermanfaat dalam sesi brainstorming, diagram AOA masih sangat umum digunakan dalam manajemen proyek. Dari perspektif akademik diagram AOA masih berguna, terutama untuk tujuan optimasi, karena sebagian besar formula-formula linear programming untuk mencari jalur kritis (critical path) didasarkan pada diagram AOA.

Selanjutnya dengan menggunakan diagram AOA, kita akan membahas bagaimana cara menjadwalkan proyek di posting bagian kedua.

Catatan Kaki:


[1] Kelley Jr., J. E. (1961). Critical-path planning and scheduling: Mathematical basis. Operations Research, 9(3), 296–320. doi: 10.1287/opre.9.3.296
[2] Tentang mengapa paket  software manajemen proyek menggunakan dasar perhitungan diagram AON, silahkan lihat: CPMtutor. (2010). CPM tutor: A pratical guide to construction scheduling. (chap. 5.c). Retrieved from http://www.cpmtutor.com/c05/numberingdummies.html

Rujukan:


Agustini, D. H., & Rahmadi, Y. E. (2004). Riset operasional: Konsep-konsep dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Baker, S. L. (2004). Critical path method (CPM). Retrieved from http://hspm.sph.sc.edu/COURSES/J716/CPM/CPM.html

Hendrickson, C., & Tung, A. (2008). Project management for construction: Fundamental concepts for owners, engineers, architects and builders. (2.2 ed., chap. 10.3). Pittsburgh, PA: Prentice Hall. Retrieved from http://pmbook.ce.cmu.edu/

Herjanto, E. (2008). Manajemen operasi. (3rd ed.). Jakarta: Grasindo.

Huse, E. F., & Bowditch, J. L. (1973).  Behavior in organizations: A systems approach to managing. Reading, Massachusetts: Addison-Wesley Pub. Co.

Kelley Jr., J. E. (1961). Critical-path planning and scheduling: Mathematical basis. Operations Research, 9(3), 296–320. Retrieved from http://or.journal.informs.org/content/9/3/296.full.pdf

Sniedovich, M. (2005). Towards an AoA-free courseware for the critical path method.  INFORMS Transactions on Education, 5(2), 47–63. Retrieved from http://archive.ite.journal.informs.org/Vol5No2/Sniedovich/

Tague, N. R. (2005). The quality toolbox. (2th ed.). Milwaukee, Wisconsin: ASQ Quality Press. Available from http://asq.org/quality-press/display-item/index.html?item=H1224

Taylor, J. (2008). Project scheduling and cost control: Planning, monitoring and controlling the baseline. Ft. Lauderdale, Fla: J. Ross Pub.

Iklan

6 responses to “Activity Network Diagram (Bagian Pertama)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: