Model Lean Manufaktur pada Industri Sepatu

Kalau anda pernah melewati pabrik sepatu ketika jam pulang kerja, anda akan melihat bis-bis karyawan dan angkutan-angkutan umum penuh dengan jejalan buruh-buruh perempuan, hampir dapat dipastikan jumlahnya mencapai  belasan ribu orang.  Dulu, aku berpikir apakah mungkin menciptakan kondisi pabrik sepatu yang lean/ramping dalam hal jumlah tenaga kerja, terutama di pabrik sepatu olahraga yang  dalam proses produksinya masih mengandalkan pekerjaan tangan?

Saat browsing mencari bahan untuk tugas  kuliah  aku menemukan video  yang  berjudul “New Balance® plant tour”, video ini merupakan materi kuliah Introduction to Lean Six Sigma Methods di Massachusetts Institute of Technology (MIT), dan New Balance yang  dimaksud adalah salah satu merek sepatu terkenal dari  Amerika Serikat. “Pabrik sepatu? Lean? Woww!” pikirku ::sedikit lebay::.

Sebelum melihat videonya, aku berikan sedikit gambaran tentang New Balance (NB). New Balance Athletic Shoe, Inc. (NBAS) adalah salah satu produsen sepatu olahraga terkenal yang masih mempertahankan beberapa pabriknya di Amerika Serikat dan Inggris. Ini berbeda dengan pesaingnya dalam ruang pasar yang sama, seperti Nike dan Adidas, yang desain produknya di Amerika Serikat dan Eropa, tetapi produksinya diserahkan ke produsen di Cina, Vietnam, Indonesia, dan negara-negara berkembang lainnya. Konsekuensinya produk NB cenderung lebih mahal ketimbang produk pesaingnya, kebayang kan gimana tingginya biaya tenaga kerja di sana? NB mensiasatinya dengan membedakan produk mereka dengan inovasi teknis, seperti campuran sisipan gel, counter tumit, dan pilihan ukuran yang lebih besar, terutama untuk yang sangat sempit dan/atau sangat lebar.

Selain inovasi teknis, NB terus mencari solusi untuk mengurangi segala pemborosan dalam proses produksinya, fokus menggunakan lean tools untuk improve aliran produk sampai ke tangan konsumen akhir, dan dengan bantuan Toyota Supplier Support Center, manajemen NB mulai mengorganisasikan upaya perubahan di area problem solving dan improvement proses untuk menciptakan sebuah kultur yang mengikut sertakan karyawan bersama perusahaan untuk terus bergerak ke tingkat kinerja yang lebih tinggi.

Untuk melihat kontrasnya, sebuah pabrik di  Asia umumnya  memiliki lini produksi lurus dan panjang yang ditangani oleh 80-100 orang, dengan output yang sama, ini sama dengan layout cellular NB di pabriknya di Lawrence, Massachusetts, yang hanya ditangani oleh 15 orang. Ini berkat improvement lean manufacturing  dan otomasi [1]. Sebagai perbandingan, upah buruh tahun 2010 di Indonesia adalah sekitar Rp1.243.000,00 atau $139,00 per bulan (UMK Kabupaten Tangerang) dan di  Amerika Serikat adalah sekitar Rp18.400.000,00 per bulan atau $2,000.00 (www.mass.gov).

Penasaran dengan videonya? Cekidot!

Sumber: YouTube, 2009

Bacaan Lain:


[1] LEI. (2008, June 24). For athletic shoe company, the soul of lean management is problem solving. Retrieved October 20, 2011, from Lean Enterprise Institute: http://www.lean.org/Community/Registered/SuccessStories.cfm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: