Catatan Industrial Engineer I: Awal Masa Training

Mulai 10 Mei 2010, aku harus terbiasa bangun tidur setiap jam 3.30 pagi (lebih tepatnya jam 4 pagi; 30 menit untuk “allowance”!). Biasanya pada jam ini, orang tuaku baru pulang belanja dari Pasar Serpong. Aku bangun tidur bukan untuk membantu merapihkan belanjaan. Kali ini, aku harus bangun tidur sepagi buta itu karena aku punya pekerjaan baru. Jam 6.45 pagi, aku harus sudah ada di depan gerbang sebuah manufaktur di kawasan industri Cikupa, Tangerang. Sampai dengan jam 5 pagi, dengan perasaan berat, aku harus mandi, sikat gigi, sholat subuh, dan sarapan. Setelah jam 5, aku menyisakan 15 menit untuk menyiapkan air minum di botol air mineral bekas, mengecek isi tas (terutama dompet), dan ngopi dulu tentunya. Sedikit caffeine di pagi hari cukup membantu membangkitkan semangat, apalagi kalau ada SMS ucapan selamat pagi dari…..???

Agar tidak ketinggalan bis jemputan, jam 5.15, aku sudah beranjak dari PDAM Serpong ke bundaran Techno Park Serpong. Jaraknya sekitar satu kilometer. Di sana, aku menunggu bis jemputan yang meluncur jam 5.30 dari perempatan Muncul (sekitar Kampus ITI). Saat menunggu, sering teringat para tetanggaku yang menjadi buruh perempuan di pabrik-pabrik garmen. Mereka berangkat lebih pagi dariku, bekerja keras dengan upah standar UMmK (upah minimum-‘minimum’ kabupaten), dan pulang kerja sampai di rumah selepas ba’da Isya. Semua itu demi sesuap nasi dan segudang mimpi di negeri yang belum dapat mewujudkan ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya’. Aku sedikit beruntung (meski gaji pokokku tidak jauh berbeda dengan mereka), faktor pendidikan memudahkanku untuk langsung bekerja satu tingkat di atas mereka. Aku bersyukur karena Tuhan menepati ucapannya:

“..niscaya Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS 58:11)

Dan bis itu datang. Bis karyawan kecil dengan satu pak sopir dan lima penumpang awal. Sapaan (sok) akrab pun aku lontarkan. Sebait kata balasan dan seuntai senyum mereka tebarkan. Setelah itu, suasana kembali menghening. Hanya terdengar deru mesin kendaraan bermotor. Sesekali, bis berhenti mengangkut orang yang melambaikan tangan. Mataku sedikit menatap wajah-wajah mereka (siapa tahu ada yang kenal). Selebihnya, aku sapukan pandangan ke luar, ke deretan gedung di sepanjang jalan raya: German Center, BSD Plaza, WTC Serpong, RS Omni International, dan entah apa lagi. Namun, pikiranku tidak ke benda-benda itu. Aku teringat karirku, ini karir awal yang dimimpikan oleh teman-teman kuliahku. Namun secara nilai uang, jelas tidak cukup! Tidak cukup waktu sebulan untuk membeli sehektar sawah di kampung (ya..iyalah! kecuali kalau bos loe itu Ratu Pantai Selatan). Terlintas di pikiranku nama-nama mentorku di industri. Kebanyakan dari mereka menikmati lezatnya hidup setelah sekian lama berpayah-payah dalam hidupnya. Aku juga ingat filosofi kura-kura versus kelinci dari Toyota. Toyota menjadi manufaktur terbesar di dunia–seperti sekarang–bukan karena suatu “revolusi”. Toyota berkembang secara “evolusioner” di tengah segala kekurangan dan kendala pada dasawarsa awal. Toyota memilih menjadi “kura-kura” yang perlahan-lahan dan menang, ketimbang menjadi “kelinci” yang pingsan (karena kelelahan) tepat beberapa meter lagi ke garis finish. Ini mengingatkanku kepada syair arab:

Saafir tajid ‘iwadlon amman tufaariquhu
Wanshob fainna ladzidzal’aisy fi an-nashobi
Berjalanlah kamu maka kamu akan mendapatkan pengganti dari apa-apa yang kamu tinggalkan
Dan berpayah-payahlah kamu karena dalam kepayahan itu terdapat manisnya kehidupan
(Diwan al-Imam Syafi’i)

Bis pun tiba di depan gerbang pabrik pukul 6.30 pagi. Absen kartu elektronik menunggu di gedung staff. Aku harus menyapa dia tepat pukul 6.45. Di tempat ini, aku bekerja sebagai staff IE, singkatan dari Industrial Engineering. Aku senang dengan pekerjaan ini karena sesuai disiplin ilmuku: Teknik Industri (orang Amerika menyebutnya ‘industrial engineering’, orang Eropa menyebutnya ‘engineering management’). Aku juga senang karena pekerjaan ini lebih baik dari pekerjaanku sebelumnya, yaitu sebagai “pengacara” (pengangguran banyak acara). Dalam posisiku, aku bekerja se-level dengan Ketua Regu Produksi. Sebelum menjadi karyawan tetap, aku diberi waktu selama 3 bulan untuk menjalani masa percobaan dan minggu ini adalah minggu pertama masa percobaan. Di minggu pertama ini, aku mencoba beradaptasi terlebih dahulu dengan rekan-rekan kerjaku.

Saat berkenalan dengan senior-seniorku, aku menjumpai seorang teman yang sudah tak jumpa muka hampir kurang lebih tujuh tahun. Dia teman se-STM berbeda jurusan, aku di mesin dan dia di listrik. Aku juga beradaptasi dengan orang-orang di luar IE, biasanya aku sempatkan saat waktu istirahat tiba. Oh ya! ada dua orang baru di IE: aku dan Maya. Maya adalah alumni Teknik Industri dari sebuah kampus ternama di daerah Serang, Banten. Maya, aku, dan satu orang lagi; Yuli, selalu bersama saat tes masuk perusahaan ini. Yuli terpisah, dia ditempatkan di bagian CE (entah apa kepanjangannya?). Ada juga orang baru yang se-almamater denganku, namanya Astri. Hanya saja Astri ditempatkan di Bagian NOS (novus ordo seclorum). Suatu saat, aku akan bercerita tentang NOS karena ini bidang yang menarik dalam disiplin ilmu Teknik Industri.

Selanjutnya yang terkait dengan tugas-tugasku, aku mencoba mengenali produk, part-part yang membentuk produk, aliran proses produksi, dan mesin-mesin yang digunakan. Tugas rutin dan penting yang aku kenali (untuk saat ini) adalah melakukan cross-check antara keputusan-keputusan Bagian Produksi dengan standar keefektifan dan keefisienan manajemen perusahaan. Keputusan tersebut terutama berkaitan dengan keputusan penambahan dan pengurangan tenaga kerja dan fasilitas produksi/mesin.

Orang-orang di bagian produksi tentunya ingin produksi dilaksanakan dengan jumlah tenaga kerja dan mesin yang melebihi standar. Jika penambahan orang terjadi, perusahaan tidak mau menggaji orang yang ditambahkan tersebut, kecuali jika penambahan itu efektif. Orang-orang IE–yang menganut mazhab efisiensi–akan memverifikasi keefektifan tersebut. Cara verifikasi ini tidak akan aku jelaskan di sini karena sama saja dengan menulis ulang modul kuliah APK (analisa perancangan kerja). Intinya, rencana produksi yang akan dilaksanakan tidak saja harus disetujui oleh bagian analis produksi (PPIC, production plan & inventory control) dan bagian eksekutor produksi, tapi juga oleh IE agar produksi dapat dijalankan secara efektif dan efisien.

Ketika ditanya oleh tetanggaku tentang pekerjaan IE ini, aku selalu menjawab “jadi staff insinyur”. Mungkin tetanggaku berpikir aku bekerja mengurus pemeliharaan mesin atau listrik, tapi apalah daya aku harus menjawab seperti itu karena banyak orang umum tidak tahu apa itu ‘industrial engineering’. Mungkin perlu penjelasan panjang lebar untuk memahami apa itu ‘industrial engineering’. Jangankan mereka (tetanggaku), aku saja (yang kuliah di Teknik Industri) baru tahu rincinya ketika masuk kuliah di semester lima. Aku kira hal ini hanya terjadi di kampusku saja. Saat masih aktif kuliah, aku sempat ngobrol-ngobrol dengan teman-teman kampus lain yang tergabung di PMTI (perhimpunan mahasiswa teknik industri) maupun yang ikut LKTI (lomba keilmuan teknik industri), dan ternyata banyak mahasiswa Teknik Industri pada awal semester mengalami krisis mental… apa yang dipelajari di Teknik Industri? Teknik Industri itu apa?

Aku terkadang iri melihat teman-teman jurusan mesin, elektro, dan informatika. Mereka bisa berinovasi dan menciptakan karya-karya baru. Lalu, mahasiswa Teknik Industri bisa apa? Desain mesin, tidak bisa (hanya bisa mengoperasikan mesin bor dan bubut saja, ini juga masih kalah skill sama anak STM mesin). Pemrograman, tidak bisa (hanya dibekali pemrograman Pascal, paling hebat cuma bisa bikin software horoskop). Ngoprek alat elektronik, tidak bisa (hanya bisa bongkar alat elektronik sederhana, sudah bersyukur kalau bisa bongkar-‘pasang’). Teknik Industri kadang disebut ‘teknik banci’ karena mempelajari berbagai aspek ilmu di luar disiplin ‘engineering’, misal akuntansi dan ekonomi. Teknik Industri juga dianggap disiplin ilmu yang tidak jelas karena tidak ‘product-oriented’ atau produk yang dihasilkan tidak mudah dibayangkan.

Saat dites wawancara oleh Manager IE pada tanggal 26 April 2010, ada sedikit perdebatan. Kami mempunyai persepsi yang sama, namun memiliki cara penjelasan yang berbeda. Beliau (Manager IE) mendefinisikan suatu istilah dengan simpel dan tegas, sedangkan aku terlalu bertele-tele. Beliau memang orang teknik ‘murni’ (kalau tidak salah dari Teknik Metalurgi) yang memiliki cara berpikir teknis, sedangkan aku Teknik Industri yang terjangkiti filsafat sehingga sangat perlu bagiku untuk menjelaskan ilmu secara epistemologi. Dalam wawancara ini, aku mendapat pencerahan dari praktisi IE ini. Ini terjadi ketika aku balik bertanya:

“Waktu magang, kenapa yah, pak? Kok orang IE ngga kelihatan kerjanya? Kalau memang tugasnya mengukur cycle time, orang produksi juga mengukur cycle time?”.

Beliau menjawab “Yah..seperti kamu kuliah saja, kamu kuliah mempelajari semua ilmu, tapi tidak pernah katam (maksudnya khatam–penulis), ngga jelas bukan? IE juga bekerja tidak kelihatan, mereka bertugas di sisi manajemen agar sistem berjalan dengan baik”

Beliau balik bertanya: “Apakah produksi akan tetap jalan tanpa IE?”

“Hmmm… tetap jalan, pak!” jawabku

“Ya! Benar! Kehidupan akan tetap berjalan tanpa IE. Namun dengan IE, kehidupan akan lebih bernilai-tambah” motivasi beliau.

Teknik Industri memang tidak ‘product-oriented’, tapi lebih bersifat ‘process-oriented’. Benda yang dirancang bukanlah benda nyata–seperti anak mesin yang menciptakan motor, anak elektro yang menciptakan robot, dan anak informatika yang menciptakan program–melainkan suatu “sistem terintegrasi” yang terdiri dari manusia, mesin, material, energi, dan informasi.

Dari wawancara di atas, aku mendapatkan satu kata mutiara baru dari Manager IE itu, yaitu:

Kehidupan akan tetap berjalan tanpa IE. Namun dengan IE, kehidupan akan lebih bernilai-tambah

Setelah mengucapkan kata mutiara itu, Manager IE berkata: “Dan departemen IE adalah departemen terdepan di perusahaan ini!” (sambil mengepalkan tangan kanan).
“Oh! tanggung jawab yang berat” pikirku. Kini, terlintas dalam benakku bahwa QS 58:11 di atas perlu direnungi dengan ayat Tuhan di bawah ini:

“..dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu” (QS 6:165)

Memang, semua jabatan (kedudukan) adalah ujian. Ujian: apakah kita mampu mengemban jabatan itu dengan penuh tanggung jawab atau tidak?

Wallâhu a’lam bi ash-shawwâb.

Serpong, 16/05/2010 jam 4:02.

Iklan

5 responses to “Catatan Industrial Engineer I: Awal Masa Training

  • Ihsan

    Saya seorang fresh gradute lulusan teknik informatika S1, kbtulan saya kerja untuk staff IE Disebuah perushaan yg mmproduksi spatu Nike, ke ilmuaan sya tntunya tdk sama dg IE, yg saya ingin tanyakan adlh, untuk kerja sbgi staff IE apa skill utama yg hrus di perdalam dan d persiapkan, terus bgimna jenhang karir dan cara mningkatkan posisi kerja nya.

    ihsan

    • ceritauntuksenja

      Wah… pabrik yang mana nih?
      saya juga kerja di pabrik nike dulu…

      Wah.. saya jurusan ekonomi manajemen malah, kerja di bagian continuous improvement, biasanya kita sedepartemen juga…

      ya, jadi tantangan juga kita beda jurusan, tapi bukan alasan buat berhenti belajar kan?

  • hafidzi96

    mantap kak kata” mutirarany, Terimakasih jadi semakin termotivasi untuk Mendalami dunia Teknik Industri,
    Ak hafidz dari Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan
    salam Kenal.

  • ceritauntuksenja

    Lama banget nih gak di update…

    seru, ngingetin masa erja awal dulu…
    masih kerja di pabrik ga?

    Coba saya tebak, agak kayanya kerja di pabrik sepatu di serpong deh… milik korea… singkatannya PAI … bener ga sih ^^

    Asal nebak aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: